Gema Gamelan Para Pelajar: Ekstrakurikuler Karawitan Wujudkan Pendidikan Berbasis Seni

 KUDUS (8/10/2026)- Di tengah kepopuleran musik modern yang menguasai daftar putar lagu generasi muda, sekelompok pelajar di SMA Negeri 1 Kudus justru menemukan daya tarik tersendiri pada alunan musik tradisional. Melalui kegiatan ekstrakurikuler karawitan, pihak sekolah tidak hanya memfasilitasi minat para siswa tapi juga menjaga kelestarian budaya daerah sekaligus mewujudkan pendidikan berbasis seni dan membentuk karakter intelektual yang menghargai kearifan lokal.

KUDUS — Siswi anggota ekstrakurikuler karawitan, Alyssa Zahira Santoso (kanan), diwawancarai mengenai pengalaman dan nilai karakter yang didapat selama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karawitan.

Alyssa Zahira Santoso (16) salah satu siswi yang aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karawitan, mengungkapkan alasan memilih kesenian budaya musik tradisional di era digital dikarenakan pengaruh lingkungan keluarga serta rasa nasionalisme yang membuatnya tertarik dengan kebudayaan di Jawa. “Jiwa seni dan ketertarikan saya terhadap karawitan ini terbentuk karena rasa cinta serta bangga terhadap tanah air, yang juga didukung kuat oleh lingkungan keluarga,” ujar Alyssa di sela-sela kegiatan latihan. Selain menjadi wadah pelestarian budaya, kegiatan ekstrakulikuler ini menumbuhkan karakter positif pada siswa seperti mempererat kerja sama kelompok hingga membentuk kesabaran saat menyelesaikan masalah. 


Di sinilah kita belajar untuk mengurangi dan mengubur ego pribadi karena setiap pemain wajib berkolaborasi secara baik sehingga nada yang keluar kompak dan harmonis.

Di tengah padatnya jadwal pelajaran dan tumpukan tugas, karawitan justru hadir sebagai penawar stress, karena bergabung atas dasar suka dan tanpa paksaan, Alyssa mengaku sama sekali tidak merasa tertekan selama latihan. Menabuh gamelan justru menjadi sarana ampuh baginya untuk menyegarkan pikiran kembali. Dalam kelompok karawitan sekolah, Alyssa dipercaya memainkan beberapa instrumen balungan, seperti saron, demung, dan slenthem. Menurutnya, proses mempelajari instrumen gamelan dari dasar tidak sesulit yang dibayangkan masyarakat umum. Adanya notasi angka menjadi panduan utama yang mempermudah proses belajar. “Awalnya mungkin terlihat rumit, tetapi sebenarnya tidak terlalu sulit karena ada notasi nomor-nomor sebagai patokan, mirip seperti saat kita belajar memainkan piano,” jelasnya.


"Karawitan adalah peninggalan berharga dari leluhur kita. Jika tidak kita lestarikan, lambat laun kesenian ini bisa hilang dan kita akan mengalami krisis identitas bangsa. Memang tidak mudah untuk tertarik pada awalnya, terlebih masih banyak pandangan bahwa karawitan itu kuno. Namun, selama kita mau membuka diri untuk mencoba hal baru, lama-kelamaan kita pasti bisa menikmati dan mencintainya," ucap Alyssa. Melalui keberadaan ekstrakurikuler karawitan ini, pihak sekolah berharap para siswa tidak hanya mahir secara teknis dalam memainkan alat musik tradisional, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berbudaya, dan memiliki kebanggaan atas warisan Nusantara.

Comments